20 April 2003, jalanan di kota New York. Aku menembus hujan rintik-rintik yang tiba-tiba datang. Dalam hati aku bersyukur, waktu yang tepat untuk hujan. Soalnya, jadwal pemotretan outdoor yang kami lakukan hari ini sudah selesai sejam yang lalu. Andre, rekan kerjaku yang berbadan sedikit montok, tergopoh-gopoh menyusulku. Dengan langkah panjang, aku bergegas ke stasiun subway yang tinggal satu blok di depan mata.
Belum juga mencapai tangga menuruni stasiun subway, ponselku berdering. Anonymous call. Pasti ini telepon dari Jakarta, aku membatin.
“Hello?”
“Tinka?”
“Speaking.”
“Where are you?”
“On my way to the apartment,” jawabku, sedikit terengah-engah menuruni tangga.
“Aku hanya ingin tahu kabarmu. Kalau begitu, telepon aku begitu kamu sampai. OK?”
“See you.” Aku menutup telepon.
“Siapa?” tanya Andre. Di balik kacamata bulatnya, matanya terlihat menyelidik.
“Ingin tahu saja sih!” kataku tertawa.
“Let me guess. Pasti Rey, pacar barumu ya?” kata Andre, mengeluarkan bubble gum andalannya. Ia menawarkan sepotong untukku.
“Ya, ya.”
“Dia menelepon lagi? Gila deh pacarmu itu. Nggak bosan-bosannya menelepon. Di apartemen, di lokasi pemotretan, di jalan. Dia betul-betul jatuh cinta padamu, Tinka?”
Aku hanya mengangkat bahu.
Di subway, seorang pria bule berambut pirang dan bermata biru mengambil tempat duduk di depan kami. Sangat gagah. Pasti perutnya six-pack, kataku dalam hati. Aku melirik Andre. Rupanya, ia juga sedang memperhatikan pria itu.
“Keren ya?” kata Andre. Matanya seakan-akan ingin menelan pria berambut pirang itu bulat-bulat.
“He-eh.” Aku menjawab, tapi tak berminat untuk meneruskan pembicaraan. Pikiranku melayang. Jauh ke Jakarta.
Seminggu yang lalu, Andre dan aku tiba di New York. Kami mendapat assignment untuk melakukan pemotretan di sini. Tentu saja, sangat menyenangkan. Apalagi aku bekerja dengan Andre, si fotografer gay yang jenius itu. Aku harus melakukan pemotretan katalog untuk klien kami, sebuah brand fashion terkenal.
Tiba di apartemen, aku sudah tak ingin melakukan apa-apa lagi. Cuaca mendung memang paling bisa bikin orang jadi malas! Di dapur, Andre sibuk mengaduk mie instant yang menebarkan aroma yang menggiurkan. Dasar perut Melayu, ledekku.
Kriinggg. Telepon di apartemen yang kami sewa itu berbunyi. Jangan harap Andre akan mengangkat. Ia terlalu asyik dengan mangkuk noodle-nya.
“Halo?”
“Tinka? Sudah sampai di apartemen? Why didn’t you call me?” kata suara di seberang sana. Aku hapal betul siapa itu. Rey!
“I was going to. Tapi tak apalah. Yang penting kita sudah bertelepon bukan?”
Tak lama kemudian, kami sudah terlibat pembicaraan panjang. Semua kami omongkan. Mulai dari acara pemotretan hari ini, cuaca New York yang tak terduga, ceritanya tentang meeting dengan klien yang alot. Juga, bumbu-bumbu kalimat “I miss you” dan “I love you”. Bukan aku yang mengucapkan dua kalimat ini. Yang jelas, Rey memang selalu bisa membuatku melayang!
Aku rasa, aku memang betul-betul jatuh cinta.
24 April 2003, Bandara Cengkareng. Setelah melewatkan lebih dari dua puluh jam di perjalanan, pesawat yang kami tumpangi mendarat di tanah air.
“Tinka!”
Aku menoleh. Di sana, aku melihat sosok tegap Rey, dengan karangan bunga mawar dari Glamourette di tangan. Pasti untukku.
“Apa kabar, honey? Lelah?” sapanya sambil meraih bawaanku.
“Ya, lumayan,” kataku sambil mengucapkan selamat tinggal dengan Andre yang berlalu dalam taksi jemputan.
Di dalam mobil, Rey mulai menciumiku. “I miss you, Tinka,” bisiknya berulang-ulang. Aku terdiam, menikmati lidahnya yang menelusuri seluruh tubuhku.
10 Mei 2003, di apartemenku. Rey muncul di depan pintu, hanya lima menit telat dari waktu yang dijanjikan. Malam ini, ia mengajakku nonton di MPX Grande. Aku sedang bersiap-siap, bingung mau pakai baju apa. Di atas tempat tidurku, beberapa gaun bertebaran. Aku masih bingung.
“You look good in that dress,” katanya sambil mengancingkan bagian belakang punggungku. Tak lupa sebuah kecupan kecil mendarat di sana.
Rey selalu identik dengan cium. Bahkan terkadang aku merasa, hidupnya tak pernah lepas dari cium. Dalam hati, aku membayangkan. Hanya untukkukah?
Atau, juga untuk wanita lain?
Aku tak tahu.
Mendadak aku mood-ku hilang. Aku tak ingin keluar malam ini. Tapi bagaimana aku bilang pada Rey? Aku tak mau dia marah karena tiba-tiba aku tak ingin pergi.
“What’s up, darling?” tanyanya memandangku heran. “Kamu sakit?”
“Kok kepalaku pusing ya? Mungkin kena migren,” kataku hati-hati. “Kayaknya lebih baik kita tak usah pergi saja.”
“Whatever you say, darling. Kalau begitu kamu berbaring saja,” Rey membimbing aku ke tempat tidur. Entah ini hanya drama atau aku memang betul-betul kena migren, aku hanya menurut. Rey menyelimuti tubuhku dengan comforter biru muda di atas tempat tidurku.
Malam itu, kami pun menghabiskan malam bersama. Dengan Rey, aku tak pernah bisa menolak. Aku bahkan tak ingat lagi apa saja yang dilakukannya kepadau. Yang terdengar dan terasa, hanyalah tarikan nafas naik turun saat kami bercinta. Penuh peluh, penuh lenguhan.
“I love you, Rey,” bisikku saat terbangun keesokan harinya.
Rey sudah tak ada lagi di sana.
2 Juni 2003, di kantor. Seperti biasanya, pagi-pagi aku sudah nongol di kantor. Andre menyambutku dengan seringai khasnya.
“Pagi, Donna,” katanya menirukan iklan di televisi.
“Namaku bukan Donna,” kataku sambil berlalu menuju ke ruanganku.
“Tinka, darling, sudah dengar kabar terbaru?” kata Andre sambil memegang cangkir kopinya, mengikutiku dari belakang.
“Kabar apa? Yang ada hanya kabar kabur!” aku menyalakan komputer dan mengecek e-mail yang masuk.
“Big boss dan para pejabat di atas sana suka sekali dengan hasil kerja kita,” Andre sambil membawakan file berisi foto pemotretan New York. “Hasil kerja keras kita tak sia-sia! They love it!”
“Excellent,” jawabku pendek.
“What’s wrong with you, Tinka? You are the fashion stylist, bukankah kamu sangat excited dengan proyek kita? Lihatlah, semua foto ini!” kata Andre membolak-balik foto-foto itu. Selembar foto model bule tersenyum ceria seakan-akan mengejekku. Aku menutup wajahku erat-erat. Aku tak ingin melihat dunia.
“Semalam aku putus dengan Rey, Andre,” kataku.
“What? Apa yang dilakukannya terhadapmu? Bukankah kelihatannya dia sangat mencintaimu?”
“Who are you talking about? Nobody loves me.”
“Come on, Tinka!”
“It’s over now, Andre.”
“Kenapa, Tinka? Tell me!”
“Terkadang, kita tak butuh alasan untuk putus. Kalau memang sudah selesai, ya selesai saja!”
Sama seperti Andre, aku sendiri tak tahu alasan kenapa peristiwa itu terjadi. Semalam, Rey mengatakan sebaiknya kita mempertimbangkan lagi hubungan yang kita jalani. Sangat diplomatis. Sangat menyakitkan.
Yang jelas, seharian aku jadi bad mood. Aku bahkan pasang ekspresi datar ketika Big Boss memanggilku ke ruangannya. Katanya, klien sangat puas dengan hasil kerjaku. Selanjutnya, ia ingin mengirim aku dan Andre ke New York untuk pemotretan yang lain.
Oh, no! Not New York again. Please.
Aku hanya bisa meratap.
1 Agustus 2003, di apartemenku. Hari ulang tahun Rey tiba. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mau telepon? Rasanya aku tak kuat mendengar suaranya. Mau kirim bunga? Aku menggeleng pada diri sendiri. Mau ketemu? Not in this life! Kami sudah selesai, tak punya hubungan apa-apa lagi. Putus, tus. Tiba-tiba kepalaku pusing. Aku merasa, kejadiannya begitu cepat. Aku masih teringat saat ia terus meneleponku di New York. Atau, ia datang menjemputku makan di Blowfish dan dilanjutkan dengan dugem sepanjang malam.
Aku masih ingat setiap ciuman yang ia berikan kepadaku. Atau, malam-malam panjang di bawah selimut saat kami bercinta. Membuatku merasa semuanya baru terjadi kemarin sore!
Aku sengaja tak masuk kerja hari ini. Ponsel kumatikan, aku hanya mendekam di kamar. Tak peduli telepon dari kantor terus berdering di apartemenku. Tidakkah mereka tahu kalau aku sedang cuti?
Hari ini berlalu di depan televisi. Tanganku di memencet-mencet remote control. Sumpah serapah kecil spontan keluar dari mulutku. Kenapa tak ada acara bermutu di televisi di republik ini? Tak sengaja, aku terpaku di depan sebuah acara infotainment. Tak terlalu menarik, memang. Tapi sudahlah, daripada jari-jariku lelah terus memencet dan berpindah saluran.
Rey ada di televisi!
Di sampingnya, seorang artis sinetron yang sedang naik daun tersenyum lebar. Wajah cantiknya menebar pesona. Dengan gayanya yang sok imut, ia bercerita soal pacar terbarunya. Rey!
Aku tercenung. Aku marah. Aku mengumpat.
Bangsat!
20 Agustus 2003, Kawasan Taman Ria Senayan. Setelah hampir tiga bulan aku uring-uringan, Andre mengajakku ke tempat keriaan. Malam ini, Andre dan Reza, pacar barunya, berniat pergi ke Manna Lounge.
“Ayolah Tinka, join us,” kata Andre.
“Ngapain?”
“Minum kek, ngobrol kek, ndengerin musik kek.”
“Kamu dengan pacarmu, dan aku cengok sendirian? Malas!” kataku ketus.
Tapi rayuan Andre memang maut. Hasilnya, aku pun digiring Andre dan Reza ke suasana remang-remang di salah satu lounge di Taman Ria Senayan itu. Tak lama kemudian, seorang cowok datang bergabung. Seorang teman Reza yang bekerja sebagai eksekutif di sebuah stasiun televisi. Ganteng, tinggi, dan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih.
“Tuh, untukmu! ” bisik Andre nakal. Sialan!
“Halo, saya Mario.”
“Saya Tinka,” jawabku datar. Aku tak percaya berkenalan dengan laki-laki saat dugem. Sebetulnya, Mario sangat menarik. Tapi pandanganku terpaku pada sosok yang ada di meja sebelah sana. Keremangan malam membuat pandanganku kabur. Rey-kah itu?
Sambil memainkan gelas berisi Cosmopolitan yang tinggal separuh, aku terus memandangnya lekat-lekat. Ada Rey di sana. Bukan, itu bukan Rey. Iya, itu Rey dengan pacar bintang sinetronnya itu!
Aku berbisik kepada Andre, sambil menunjuk ke arah yang aku maksud. Andre menggeleng.
Ia menepuk bahuku sambil tertawa, “Kamu sakit, Tinka!”
Malam terus bergulir. Kami pindah tempat. Kali ini ke Embassy. Sebetulnya, kami sama sekali tak punya maksud untuk barhopping. Tapi, mukaku yang cemberut dengan pandangan mata kosong itu membuat Andre dan Reza harus melakukan sesuatu.
Ladies’ Night di Embassy penuh dengan orang kelojotan mengikuti irama musik yang berdentam. Biasanya, aku sangat menikmati musik itu. Tapi, kali ini tidak.
Aku mulai men-scan seluruh ruangan. Sosok Rey kembali datang.
Jangan, Tuhan! Tapi aku merasa, aku memang sakit.
1 September 2003, di kantor. Sudah empat bulan sejak aku putus dengan Rey. Aku mulai menghitung hari. Dan kini, aku panik. Entah kenapa, bayangannya terus menghantuiku. Hari-hari yang kulalui terasa begitu panjang. Aku sudah tak merasa lagi berapa proyek di kantor yang sudah aku kerjakan. Semua berlalu begitu saja.
“Sudah dengar kabar dari New York?” tanya Andre malam itu. Sudah pukul 9 malam, tapi kami masih berada di kantor, dikejar deadline.
“Belum.” Aku masih terpaku di depan komputer, menyelesaikan sebuah konsep kreatif untuk klien yang lain.
“Sepertinya kita harus tangguhkan sebulan lagi.”
“No problem.”
“Tinka, aku tahu kalau proyek ini sangat berarti untukmu. Kenapa kamu tak peduli? Kamu ingin pindah lokasi? Paris? Barcelona? Maldives? Ouagadougou?”
“Timbuktu sounds better to me.”
Andre hanya geleng-geleng kepala sambil memandangku. Aku membalas pandangannya. What do you know about my feeling, Andre? Aku mendengar suara dari dalam hatiku sendiri.
Terus terang, aku juga khawatir proyek ini terhambat gara-gara aku. Tapi kebetulan, principal belum memberikan jawaban tentang pemotretan yang seharusnya dilakukan di New York itu. Mereka memutuskan untuk menjadwal ulang. Sebaliknya tiba-tiba ada proyek lain yang datang. Masih dari klien yang sama, tapi dengan konsep berbeda. Artinya, kami akan pindah lokasi.
Good. Because I didn’t want New York.
15 September 2003, di apartemenku. Aku buru-buru memasuki lantai apartemenku yang terletak di lantai delapan itu. Dua kopor besar yang penuh dengan muatan itu kuseret pelan. Jalanku makin terseok-seok. Aku baru pulang dari Singapura, menghadiri acara peluncuran salah satu produk klienku.
Seperti biasanya, apartemenku terasa kosong. Tak ada seorangpun di sana, kecuali ikan mas koki peliharaanku, Wanda, yang berenang-renang di dalam akuarium kecilnya.
Aku segera mengecek answering machine. Tertera di layar, ada 17 pesan di dalamnya. Aku pun mendengarkan pesan satu persatu. Ada beberapa pesan dari orang tuaku. Selanjutnya, Mario. Mario. Mario. Dan masih Mario hingga pesan terakhir selesai aku dengarkan.
Telepon berdering. Mario!
“Halo Tinka, sudah pulang?”
“Baru saja. Apa kabar?” aku menjawab dengan ogah-ogahan. Sebagian karena aku memang lelah selepas perjalanan ke luar negeri. Sisanya, aku tak tahu bagaimana harus menghadapi Mario.
“Tadinya aku mau mampir ke apartemenmu. Makan malam yuk!”
“Boleh. Aku tunggu jam delapan ya!” kataku melirik jam tangan. Saat itu pukul empat sore. Aku tak tahu mengapa aku menerima ajakannya.
30 September 2003, Starbucks Plaza Indonesia. Aku , Andre dan seorang AE dari kantor kami sedang duduk ngopi selesai meeting dengan klien di kawasan Sudirman.
“Bagaimana Mario?” tanya Andre kepadaku.
“Bagaimana apanya?” kataku balik bertanya.
“Kabarnya kamu pacaran dengan Mario sekarang?”
“Hus, kata siapa?”
Andre, rekan kerja sekaligus sahabatku itu sama sekali tak tahu apa yang aku rasakan. Dia pikir, aku sudah melupakan Rey. Bahkan menurut dia, kisah cintaku dengan Rey bagaikan one night stand. Ketemu, kenalan dan tidur seranjang.
“Enak saja, aku nggak one night stand!” ingin rasanya aku menggamparnya.
“Buktinya, baru sebentar pacaran, langsung putus!” balas Andre.
“Pacaran lima bulan itu bukan one night stand, tahu!”
Aku tak tahu, lima bulan itu waktu yang lama atau tidak. Mungkin, tergantung dari mana memandangnya. Untuk orang yang serius, pacaran lima bulan itu bukan apa-apa. Belum cukup waktu untuk saling mengenal. Ibaratnya, bulan madu pacaran pun baru saja selesai. Buat orang seperti aku, lima bulan itu sudah lumayan. Hanya saja, pendapat umum itu mungkin mengandung kebenaran. Nyatanya, aku memang tak tahu apa-apa tentang Rey.
“Ayolah Tinka, lupakan dia!” kata Andre. Di telingaku, bukan hanya pria gay itu saja yang bersuara. Rasanya aku mendengar suara lain dari dalam hatiku.
Aku menggeleng.
“Apa sih yang membuat kamu cinta mati begitu? Err, salah. Cinta buta!”
“Dunno.”
“Kamu fashion stylist, Tinka, harus punya kelas!”
“Really?”
“Dia kan playboy. Kelas kampung pula.”
“I know.”
“Dia kan pacaran dengan artis sinetron itu.”
“Norak.”
“Tuh, kan, kamu sendiri sadar.”
Kami menghabiskan minuman yang tersisa, lalu bergegas pergi. Di tengah jalan, aku mampir di salah satu kios koran yang ada di basement plaza ini, beli majalah. Di sebelahku, seorang gadis remaja sedang membuka-buka sebuah tabloid hiburan. Sebuah artikel di tabloid yang dipegangnya menarik perhatianku. “Kami Segera Menikah!” kata judul artikel itu. Di bawahnya, terpampang foto seorang artis sinetron cantik bersama seorang pria. Aku kenal betul wajah itu. Rey!
Aku berkunang-kunang. Aku mau pingsan.
21 Oktober 2003, di apartemenku, di hari saat cintaku mati. Sepulang kantor, Andre mampir ke apartemenku. Aku berjanji membuatkannya malam malam spaghetti dan almond pie sebagai dessert kebanggaanku. Sudah tiga minggu sejak peristiwa di Plaza Indonesia, tapi aku tak malu menjadi orang paling norak sedunia. Menangis dan meratap di pundak Andre.
“Sebal, Ndre, sebal!” begitu yang selalu aku katakan kepada Andre. Aku rasa, kupingnya sekarang sudah kebal.
“You look like a hell, Tinka.”
“Biarin.”
“Kamu mau aku menemanimu malam ini?”
“Aku tak mau one night stand denganmu!” teriakku meraung. Persis anak kecil yang kehilangan boneka Barbie-nya.
“Giling!”
Saat Andre pulang, aku pasang musik keras-keras. Lagu Creep keluar. Aku berteriak lagi. Mataku tertumbuk pada tabloid hiburan terbitan baru kepunyaan Andre. Ia lupa membawanya pulang. Aku pikir, mereka memang hebat. Selalu nomor satu dalam menyajikan berita. Apalagi, berita yang menyakitkan seperti ini: perkawinan Rey dengan si bintang sinetron.
Suara Thom York si vokalis Radiohead masih menyayat hati.
I am a creep. Kepalaku berputar-putar. I am a weirdo. Makin lama, kepalaku makin pusing. What the hell am I doing here? Dadaku pun sesak. I don’t belong here. Aku mual dan ingin muntah. I don’t belong here. Tuhan, aku tak tahan lagi!
Lagu itu pun silam, tapi kata-katanya masih tertinggal di kepalaku. Aku jadi makin muak dengan diriku sendiri. Kenapa aku buang waktu begitu banyak? Pelan-pelan, aku merasakan cinta itu sekarat. Sebentar lagi mau mati.
Tak sampai sedetik, cinta itu pun berakhir. Mati. Mati. Mati.
Dan aku merasa, hari pembebasanku telah tiba. Inilah hari yang paling aku tunggu-tunggu dalam hidupku.
Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihat cintaku mati.